INDONESIAREVIEW.ID – Sudah menjadi rahasia umum bahwa tanaman hias memiliki pangsa pasar yang luas baik itu dalam negeri maupun luar negeri. Peluang ini yang berhasil ditangkap narasumber inspiratif webinar inspirasi bisnis Intani seri ke 66, Cici Melita Rahmawati, pendiri sekaligus direktur CV. Pelita Desa Nursery, Ciseeng, Bogor.

“Selama pandemi saya mengamati tanaman hias ini memiliki potensi bisnis yang besar, jadi saya bersama teman-teman dari berbagai latar belakang pada Maret 2021 mendirikan PDN dengan membidik pasar global tanaman hias,” tutur Cici mengawali paparannya, Rabu (06/04).

Pelita Desa Nursery didirikan dengan basis social enterprise, dengan memberdayakan masyarakat sekitar menjadi kelompok tani dan bermitra dengan petani tanaman hias di berbagai daerah. “Kami sebagai offtaker melabeli diri ‘Tengkulak Soleh’, dimana kami mengedepankan keuntungan bersama, tidak hanya meningkatkan kesejahteraan perusahaan tetapi juga kelompok tani dan mitra. Untuk kelompok tani diberikan permodalan, bibit dan pendampingan khusus, sementara mitra hanya sebagai supplier kami,” sambung Cici.

Cici pun menceritakan awal mulanya PDN sebagai supplier, namun di bulan Agustus 2021 eksportir tidak mampu lagi menyerap hasil produksi mereka. “Jadi kami nekat mencari pasar sendiri dengan mengikuti International Floriculture Expo di Florida pada September 2021. Untuk biaya pendaftaran, akomodasi selama di sana satu bulan kami pinjam senilai 500 juta”.

Tidak sia-sia setelah kegiatan itu PDN berhasil menjalin kerja sama dengan berbagai pihak untuk langsung ekspor ke Florida. Kesuksesan terus berlanjut hingga PDN mampu membuat Expo tanaman hias sendiri di Bandung, Februari 2022 dengan mengundang langsung buyer dari Ekuador.  “Target kami hingga akhir tahun ini menginisiasi ‘Indonesia Pop Up’, bagaimana kami dapat hadir di berbagai negara di dunia dengan membawa nama Indonesia dan tanaman endemik asli Indonesia. Sesuai tagline kami ‘Green The World Through Ornamental Plants”.

Ila Failani, selaku host menggali lebih jauh apa saja kendala yang selama ini dihadapi PDN dalam mengembangkan bisnisnya dibalik kesuksesan besar yang sudah diraih saat ini. “Pastinya ada kendala ya, mulai dari menjaga 3K (kualitas, kuantitas, kontinuitas), lalu permodalan dan prosedur perizinan ekspor,” tutur Cici.

Cici pun menambahkan permodalan dan prosedur perizinan menjadi kendala besar untuk akselerasi pasar global. “Kelompok tani kami sulit mengakses permodalan karena dianggap tidak bankable, lalu prosedur perizinan yang memakan waktu lama bahkan ada yang 3 bulan untuk jenis tanaman tertentu. Hal ini menyulitkan kami untuk memberikan kepastian pengiriman kepada buyer. Dikhawatirkan kendala ini bisa menjadi hambatan untuk memperoleh buyer baru dan berpotensi kehilangan buyer yang ada”.

Ketua umum Intani, Guntur Subagja menanggapi kendala-kendala yang disampaikan dengan positif. “Ini merupakan hal klasik yang sering dihadapi para petani, dari akses permodalan dan regulasi prosedural. Nanti kami akan bantu komunikasikan dengan pihak bank maupun swata untuk PDN bisa memperoleh pendanaan produktif disesuaikan dengan bisnis model yang dijalankan”.

“Untuk regulasi perizinan, nanti kita coba bantu carikan alternatif untuk mempercepat prosesnya. Karena memang untuk proses-proses seperti ini terkadang berbeda dengan fakta di lapangan, jadi perlu adanya pengkajian ulang terkait regulasi ini,” tutur Guntur.

Guntur pun menyampaikan dalam pengantarnya di tengah pandemi yang mulai melandai, ini menjadi momentum kebangkitan ekonomi nasional. “Upaya yang dilakukan Cici dan kawan-kawan ini merupakan bisnis model yang patut kita dukung sama-sama, karena fokus mengoptimalkan potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi nasional di dunia.”

Webinar inspirasi bisnis Intani dengan tema ‘Model Bisnis Tanaman Hias Daun Tembus Pasar Global’ ini ditayangkan streaming di TANITV.* (na-dgn)

LEAVE A REPLY