INDONESIAREVIEW.ID – Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia – INTANI menyadari bahwa krisis pangan global menjadi ancaman besar bagi Indonesia. Sebagai kontribusi nyata INTANI secara rutin menyelenggarakan Webinar Inspirasi Bisnis Intani series setiap Rabu guna menginspirasi masyarakat untuk kembali ke sektor pertanian agar tewujud ketahanan pangan nasional yang kuat

Webinar seri ke 78 yang ditayangkan virtual zoom dan streaming di TANITV mengangkat tema “Ketahanan Pangan Desa Ala Warga Pranggong” dengan narasumber milenial inspiratif dari desa Pranggong, Arahan – Indramayu, Sholihun, Rabu (13/07).

“Kita wajib bersama-sama mempersiapkan diri agar terhindar dari ancaman krisis pangan global,” terang Ila Failani, Komite Informasi, Komunikasi, & Kerjasama antar Lembaga INTANI saat membuka kegiatan webinar.

Sholihun, milenial berusia 34 tahun ini selain bertugas sebagai Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Arahan di Kementerian Desa PDTT, ia mendirikan PEDES PERA (Pengutan Ekonomi Desa Berbasis Pemanfaatan Pekarangan Rumah dengan Berkebun) sejak pertengahan tahun 2019 sebagai lokomotif penggerak warga desa untuk mau kembali bertani.

“Saat ini sudah 7 orang bergabung dalam tim kreatif PEDES PERA dan 18 warga yang berkontribusi memanfaatkan lahan pekarangannya. Kami mengelola green house dengan lahan seluas 300 meter persegi, dengan ditanami aneka sayur mayur dan cabai. Teknik menanamnya sendiri ada yang konvensional dan hidroponik,” terangnya. Sholihun menuturkan ada kendala di SDM dan proses pasca panen yang masih tradisional.

Tujuan utama dari PEDES PERA yaitu membangun kesadaran warga untuk kembali bertani, meningkatkan ekonomi warga dengan mengeksplor SDA di desa dan sosialisasi pentingnya mengkonsumsi sayuran organik bagi kesehatan. “Kedepannya kami sedang mempersiapkan untuk membangun centra pasar sayur berbasis sumberdaya lokal dan meningkatkan kualitas dari segi packaging agar bisa suplai ke supermarket,” ujarnya.

Sholihun juga mengatakan desa adalah sumber kekuatan pangan nasional. “Tidak ada desa yang miskin yang ada adalah desa yang belum mampu mengekplor potensi SDA dan SDM yang di miliki, sehingga belum bisa dioptimalkan untuk kesejahteraan serta ketahanan pangan warganya”.

Komisaris PTPN IV Sumatera Utara, Atas Wijayanto yang turut serta pada webinar ini berharap lebih banyak sosok seperti Sholihun di berbagai daerah. “Luar biasa bisa bertemu dengan pemuda seperti Sholihun yang sudah mematahkan paradigma lama pertanian, banyak pemuda yang enggan bertani karena melihat orang tuanya susah. Tetapi Sholihun berhasil mengubah paradigma itu dengan keberhasilannya di tengah keterbatasan sarana dan prasarana yang dimiliki”.

Eri Koswara, Analis Ketahanan Pangan Ahli Muda DKPP Jawa Barat menerangkan selain Perpres no 104 tahun 2021 bahwa dana desa paling sedikit 20% nya wajib dialokasikan untuk ketahanan pangan desa, ada juga peraturan Kementerian Desa PDTT tahun 2022 yang selaras dengan itu.

Eri menambahkan bahwa DKPP Jabar juga ada program seperti Sholihun, yaitu Pekarangan Pangan Lestari yang saat ini sudah diserahkan ke Ditjen Horti untuk pengelolaannya. “Memang benar kegiatan seperti ini permasalahannya ada di SDM dan pasca panen, maka dibutuhkan kolaborasi dengan Bumdes sebagai hub penggerak desa. Apresiasi sekali lagi untuk Sholihun yang mampu menjalankan kegiatan seperti ini secara mandiri”.

Kegiatan ini turut dihadiri Dedy “Miing” Gumelar, Dewan Penasehat INTANI; Ali Awaludin, S.H, Camat Arahan; Kapolsesk Arahan serta Ketua TPPPKK kecamatan Arahan.*

LEAVE A REPLY