INDONESIAREVIEW.ID – Seiring berkembangnya zaman, industri pertanian pun semakin maju terutama dari sisi teknologi. Banyak inovasi sistem pertanian yang dikembangkan, salah satunya sistem hidroganik yang dikembangkan Basiri, ketua P4S Bengkel Mimpi di desa Kanigoro, Pagelaran, Malang – Jawa Timur.

“Hidroganik ini gabungan dari sistem hidroponik dan organik. Menggunakan instalasi dengan sumber nutrisi utama pupuk organik dan air kolam sebagai tambahan nutrisi tanpa adanya filter,” terang Basiri saat mengawali paparannya sebagai narasumber inspiratif webinar inspirasi bisnis Intani seri ke 80, Rabu (27/07).

Keprihatinan Basiri (49) akan alih fungsi lahan yang semakin masif di daerahnya menjadi salah satu alasan ia mengembangkan hidrogranik. “Dengan sistem ini bisa membuat kita bertani walaupun lahan terbatas dan metode ini menjadi salah satu pendekatan kekinian agar lebih banyak anak muda mau terjun ke sektor pertanian”.

Jenis komoditi yang ditanam dengan sistem hidroganik ada sayuran, melon dan padi. “Saya ambil contoh untuk padi dengan masa tanam 3-4 bulan bisa dipadukan dengan ikan lele atau nila. Jadi bisa panen di waktu yang bersamaan,” ujar Basiri.

Saat ini pria lulusan SMTP(Sekolah Menengah Teknologi Pertanian) Magelang memiliki lahan 1.000 meter yang digunakan untuk pertanian hidroganik. “Sebagai contoh lahan seluas 300 meter ada 8 instalasi dengan ukuran 2 x 12 meter, tiap instalasi bisa panen 30 kg padi dan 180 kg ikan lele. Dari sini sudah bisa dilihat berapa omzet yang akan didapatkan dengan sistem hidroganik ini”.

Harga satu instalasi dipatok 10 juta rupiah dengan masa pengerjaan selama 2 minggu dan instalasi bisa digunakan 10 tahun lebih. “Saya terbuka bagi siapa saja yang ingin datang belajar membuat instalasi, perkiraan hanya butuh 6 juta rupiah kalau buat sendiri. Intinya saya ingin lebih banyak anak muda yang terjun ke pertanian bukan sekadar cari keuntungan materi,” ujarnya.

Bengkel Mimpi didirikan sejak 2016 tidak hanya fokus mengembangkan pertanian hidroganik tetapi juga membuka pelatihan dan lapangan kerja bagi anak muda sekitar. “Untuk media tanam kita buat sendiri pupuk organik majemuk, dan itu sudah menyerap 30 pekerja. Bahkan dengan kepercayaan yang kita kasih, mereka sudah mampu membuat alat pengolah pupuk dengan kapasitas 20 ton per hari,” terang Basiri.

Ketua umum Intani, Guntur Subagja dalam pengantarnya mengatakan untuk memajukan pertanian nasional memang sangat dibutuhkan inovasi teknologi. “Sistem ini luar biasa bisa mengembangkan suatu komoditas pertanian, yang biasanya hanya ditanam hortikultura kini bisa pangan yaitu padi”.

Menurut Guntur dengan hidroganik bisa menjadi solusi beberapa permasalahan di sektor pertanian. “Bertani tidak perlu lahan luas maupun mengolah lahan di sawah ini sangat menarik bagi milenial untuk bertani, lalu bisa meningkatkan produksi padi di perkotaan dengan lahan yang terbatas serta menjadi contoh integrated farming yang dilengkapi dengan eduwisata. Jadi sudah sepatutnya sistem ini diduplikasi di berbagai daerah lain,” pungkas Guntur.

Sebagai penutup Basiri menyampaikan semangat bagi milenial untuk terjun kesektor pertanian dan mengolah semaksimal mungkin sumber daya alam untuk kemandirian pangan. ”Pertanian itu enak, pertanian itu nyaman, bertani itu tidak sengsara, bertani itu tidak perlu lahan luas. Ayo bertani, nothing is impossible”.*

LEAVE A REPLY