Oleh: Marlon S.C. Kansil, M.Si
Peneliti Center for Strategic Policy Studies (CSPS) Universitas Indonesia |

Beberapa komponen stratejik pada isu-isu sosial berpotensi memunculkan gejolak. Faktor pendorong komponen komponen tersebut bervariasi. Mulai dari politik yaitu isu program pemerintah, kebijakan dan peran serta organisasi masyarakat. Faktor Ekonomi yaitu ketersedian pekerjaan, isu pemulihan ekonomi, bantuan sosial dan kesiapan logistik. Faktor lainnya seperti keamanan adalah kriminalitas dan konflik horisontal. Dari komponen ideologi seperti radikalisme dan terorisme. Untuk budaya dan teknologi didorong oleh perubahan budaya perilaku, primordialisme, gotong royong, teknologi aplikasi dan finansial teknologi. Demikan halnya dengan kesehatan, masyarakt akan cenderung untuk mempersiapkan dir menghadapi bencana wabah berikutnya.

Sosial Politik. Ada tiga isu yang dicermati yang dapat menimbulkan gejolak sosial yaitu Program pemerintah, Kebijakan dan Peran Organisasi Masyarakat.Program pemerintah dampaknya medium waktunya tiga bulan sesuai dengan kebijakan PSBB, arah isunya netral artinya bisa saja terdistrupsi menjadi positif atau negatif suatu saat dengan kondisi tertentu. Fluktuasi isu stabil kadang menimbulkan gejolak naik atau turun. Isu ini penting
untuk menjaga stabilitas sosial. Sementara Kebijakan Pemerintah gejolaknya besar di masyarakat, isunya meningkat namun arah isunya masih netral. Dengan kata lain isu ini dapat menjadi positif ketika kebijakan pemerintah dirasakan masyarakat secara langsung.

Ini merupakan isu penting walaupun jangka waktunya pendek. Peran serta organisasi masyarakat sangat penting keberadaanya. Dampaknya meluas, jangka waktunya
panjang, isunya kuat beredar di masyarakat. Manfaat yang dirasakan cukup signifikan.

Sosial Ekonomi. Ada tiga isu yang berdampak besar pada kehidupan sosial yaitu ketersedian pekerjaan, pemulihan ekonomi dan logistik/pangan. Isu logistik menjadi begitu penting untuk meredam gejolak sosial.

Hanya isu bantuan pemerintah yang sifatnya lebih soft dari tiga isu lainnya. Dampak besar lainnya ada pada Isu pemulihan ekonomi. Walaupun isu ini berfluktuasi di tengah masyarakat namun dapat menjadikannya bom waktu. Masih ada kelompok yang tetap yakin bahwa ekonomi Indonesia dapat pulih dan sebagian lagi pesimis.

Untuk itu pemulihan ekonomi sangat reaktif dalam jangka panjang. Lain halnya dengan isu ketersediaan pekerjaan, jangka waktu reaksinya di tengah masyarakat tidak terlalu lama. Isu ini berdampak besar dan fluktuasi isu terus naik menjadi pembicaraan saat Covod 19. Jika ini tidak di cegah maka isu terebut mudah bergejolak.

Sosial Keamanan. Sekalipun kriminalitas dan konflik horisontal tidak berdampak besar, kedua isu ini tidak boleh diabaikan. Angka kriminalitas berskala kecil masih terjadi di jakarta dan beberapa daerah lainnya.

Sementara, isu konflik horisontal masih kuat. Isu konflik horisontal dapat dengan mudah muncul di Papua. Isu ini bisa menyebabkan efek broken window (pecahan kaca). Bentrokan dan tawuran serta perkelahian antar kampung masih saja terdengar sekalipun dalam masa wabah. Dampaknya tidak terlalu besar tapi isu ini dapat saja dipakai untuk menciptakan kondisi yang mempengaruhi isu sosial ideologi. Baik kriminalitas dan konflik horisontal, hanya muncul dalam situasi-situasi yang tidak kondusif misalnya dalam keadaan pandemi seperti ini.

Untuk itu patut jadi perhatian bersama untuk menekan kriminalitas karena kondisi yang sunyi dan sepi telah memberikan cela untuk melakukan kejahatan baik yang teroganisasi maupun individu

Sosial Ideologi. Radikalisme dan Terorisme dapatsaja terjadi sewaktu-waktu saat Covid 19. Kedua isu ini adalah prioritas Kuatnya isu-isu ini beredar di masyarakat hal ini ditujukan dengan kecewanya beberapa golongan organisasi keagamaan yang menuduh pemerintah sudah melanggar hukum dan aturan agama.

Semenjak ada aturan untuk tidak berkumpul (berjarak sosial) menyebabkan pertemuan umat di tempat ibadah tidak dilaksanakan. Pada awal aturan diberlakukan, beberapa rumah ibadah masih tetap mengadakan pertemuan.

Untuk sementara waktu isu keamanan masih dapat terkontrol namun harus diwaspadai, apalagi saat menghadapi puasa dan hari lebaran. Peredaran isu radikalisme lebih banyak dibicarakan ditengah masyarakat dibanding terorisme, tapi isu terorisme dapat menjadi kartu liar atau wild card yang dampaknya bisa memeperumit masalah masyarakat dan pemerintah Indonesia di tengah situasi pandemi.

Sosial Budaya. Tiga isu utama yang dapat memicu terjadinya gejolak sosial pertama, perilaku dan budaya baru, kedua primordialisme dan ketiga gotong royong. Hanya isu primordialisme yang dampaknya kecil dan muncul karena situasi dan kondisi khusus seperti yang terjadisaat ini. Isu yg kedua ( perubahan perilaku dan budaya baru) yang jangka waktunya menengah dan isunya naik ditengah terjadinya pandemi. Munculnya budaya dan
perilaku baru semasa Covid 19 ini dikarenakan kemampuan beradaptasi manusia. Perilaku sosial seperti menjaga jarak, curiga, antisosial menjadi ciri adanya perubahan tersebut. Penyesuaian ini bukan tanpa alasan karena situasi itu sendiri, aturan yang berlaku dan paradigma masyarakat yang bergeser. Sebaliknya Isu Gotong Royong menjadi sangat kuat dibeberapa tempat. Dampak yang munculsemangat untuk bekerjasama, senasib
dan sepenanggungan sangat besar pengaruhnya. Ini menjadi antitesa dari perubahan budaya dan perilaku. Gejolak sosial yang lahir dari semangat gotong royong dapat berakibat dua hal yaitu positif dan negatif.

Sosial Teknologi. Isu teknologi sudah menjadi faktor prioritas. Medsos adalah satu-satunya media yang mampu menahan keinginan masyarakat untuk tetap di rumah namun bisa bersosialisasi. Ini menjadisangat penting karena jangka waktunya panjang dan isu ini terus naik. Namun pengaruh negatif daripada medsos harus disikapi dengan seksama.

Hampir sama dengan fintek namun yang membedakannya ketika situasi Covid 19 isu fintek
tenggelam. Tapi, fintek diharapkan mampu menjadi bagian dari kesejahteraan masyarakat untuk mendapatkan pendanaan. Aturan dan himbauan pemerintah untuk fokus pada kreditur membuat fintek tidak berdaya. Namun fintek akan terus menjadi bagian penting di tengah masyarakat. Lain halnya dengan aplikasi yang sifatnya lebih fragmentasi. Aplikasi lebih cocok dengan kalangan tertentu misalkan kaummilenial. Sementara pemakaian aplikasi terbatas bagi kaum tua karena karakteristik kaum tua yang lebih konvensional.Ketiga isu ini mampu menimbulkan gejolak sosial jika tidak sentralisasi atau berada pada satu komando dalam hal ini pemerintah.
Ketiadaan

Sosial Kesehatan. Hanya satu isu yang muncul di masyarakat yaitu wabah. Kekhawatiran masyarakat terhadap wabah yang lain telah mempengaruhi psikologi sosial masyarakat. Pertanyaan yang sering muncul adalah wabah apa lagi yang akan terjadisetelah Covid 19? Bagaimana mencegah datangnya wabah pandemi gelombang berikutnya.

*) Penulis adalah Peneliti Center for Strategic Policy Studies (CSPS) Sekolah Kajian Strategic dan Global Universitas Indonesia (SKSG UI).

SHARE
Previous articleB30 Inovasi BBM Indonesia

LEAVE A REPLY