INDONESIAREVIEW.ID – Melalui webinar inspirasi bisnis Intani yang diselenggarakan Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia-INTANI setiap Rabu secara virtual zoom dan  tayang streaming di TANITV kerap menghadirkan para milenial yang sukses terjun di berbagai sektor pertanian. Hal ini merupakan salah satu program Intani dalam mencetak dan  mengembangkan generasi petani muda.

Pada seri ke 65 webinar yang dipandu Ila Failani, dengan tema ‘Potensi Bisnis Melon: Wisata Hingga Pasca Panen’ menghadirkan narasumber muda dan inspiratif dari Sampang, Madura yaitu Mahfudh ME, owner Kampung Melon Napote, Bira Timur, Sokobanah serta  ketua kelompok tani Gemahripah Arrohman.

Tidak memiliki latar belakang pendidikan pertanian dan hanya lulusan pesantren, pemuda kelahiran tahun 1994 ini memiliki segudang prestasi di bidang pertanian mulai dari Juara 1 Petani Berprestasi Jawa Timur 2020, Juara 2 Wirausaha Muda Berprestasi Jawa Timur 2021 dan Finalis 1 dalam ajang East Java Tourism 2021.

Mahfudh mempelajari ilmu pertanian dari keikutsertaanya dalam Pelatihan Kewirausahaan Berbasis Kawasan bagi Petani Muda yang diselenggarakan Balai Besar Pelatihan Pertanian Ketindan. Mulai dari situ ia mengaplikasikan seluruh ilmunya untuk bertani dari mulai hulu sampai hilir.

Dalam paparannya Mahfudh mengatakan untuk budidaya ada melon dan cabai besar. “Di melon ada 15 jenis yang dibudidayakan sedangkan untuk cabai ada cabai besar jenis imola dan columbus. Untuk budidaya melon ada yang open field dan greenhouse dengan sistem hidroponik vertigasi sedangkan cabai menggunakan sistem aquaponik” tuturnya.

“Di Kampung Melon Napote sendiri tidak hanya sekedar agrowisata tetapi juga eduwisata, kami menyediakan tempat magang untuk para pelajar,” terang Mahfudh. Lebih lanjut ia mengatakan untuk hasil panen tidak hanya langsung dijual ke pasar melainkan diolah menjadi berbagai produk.

Ia menuturkan untuk pengolahan produk bekerja sama dengan Kelompok Wanita Tani (KWT). “Jadi melon yang ukurannya tidak memenuhi standar penjualan kita olah jadi sari melon, dodol dan lainnya. Lalu sisa kulit buahnya kita olah jadi pupuk cair organik, jadi hampir zero waste, tidak ada yang terbuang. Selain itu kita buat juga kripik daun cabai” tutur Mafudh.

Selanjutnya ia mengatakan untuk omset tertinggi melon bisa mencapai 510 juta per hektar setiap jenis sedangkan cabai 350 juta sampai 1,4 miliar per hektar. “Yang terpenting sebelum memilih komoditas untuk dibudidayakan adalah pastikan pasarnya ada dulu,” pesan Mahfudh.

Dedy ‘Miing’ Gumelar yang turut hadir dalam webinar ini dibuat berdecak kagum dengan sosok milenial dari Madura ini. “Persepsi orang ketika mendengar Madura biasanya kalau tidak pengepul besi tua ya pedagang sate. Namun ini muncul sosok muda dengan prestasi luar biasa di bidang pertanian yang mampu mengubah persepsi tentang Madura”.

Bagi Dedy sosok Mahfudh ini sangat hebat, bukan hanya petani tetapi juga pengusaha pertanian sukses. “Cak Mahfudh ini hebat memiliki konsep yang luar biasa, indikatornya yaitu memiliki ilmu pertanian hanya dari pelatihan dan diaplikasikan secara nyata, lalu fokus budidaya hanya pada komoditi yang dikuasai terutama dari segi pasar dan memiliki visi yang jelas dalam mengembangkan bisnisnya”.

Dedy pun berpesan agar Intani terus mengakomodir pemuda-pemuda seperti Mahfudh ini, agar lebih banyak sosok muda berprestasi tercipta di berbagai daerah sebagai solusi regenerasi petani.

Ketua umum Intani, Guntur Subagja mengamini apa yang sudah disampaikan. “Memang menjadi tugas kita bersama Intani untuk terus meningkatkan nilai edukasi pada para petani milenial. Dengan terus menghadirkan sosok petani milenial sukses seperti Mahfudh ini.”

“Kedepannya kita akan berkolaborasi dalam meningkatkan produktifitas baik itu pasar, akses permodalan serta akses prasarana lainnya dalam meningkatkan nilai tambah produk serta membranding produk-produk unggulan di Madura ini agar lebih naik kelas,” tutur Guntur.

Konsep yang sudah dijalankan Mahfudh ini nantinya akan diduplikasi untuk diterapkan di daerah lainnya dalam rangka mempercepat pengembangan Program Petani Milenial.* (na-ir)

LEAVE A REPLY