INDONESIAREVIEW.ID – Krisis ketahanan pangan tidak bisa diatasi hanya dengan kebijakan dari pemerintah pusat tetapi dibutuhkan kontribusi dari setiap elemen masyarakat. Salah satunya dengan mengoptimalkan pekarangan rumah untuk berkebun.

Tentunya kegiatan ini bisa dilakukan siapa saja karena tidak memerlukan lahan yang luas dan menggunakan media tanam sederhana. Urban gardener, Ida Amal melalui komunitas Indonesia Berkebun mengedukasi masyarakat luas bahwa berkebun itu mudah.

“Berkebun itu jangan hanya sekedar ikut tren, tetapi harus punya landasan agar sustain,” terang Ida saat memulai paparannya sebagai narasumber inspiratif Intani seri ke 79, Rabu (20/7).

Indonesia Berkebun memiliki tiga landasan yaitu, ekologi, edukasi dan ekonomi. “Komunitas ini diinisiasi tahun 2010 bersama Kang Emil (Ridwan Kamil), saat itu beliau masih aktif sebagai arsitek,” ujar Ida.

Ida menceritakan awal berkebun bersama komunitasnya di lahan perumahan daerah Kemayoran yang saat itu Kang Emil sebagai konsultan pembangunan perumahan di sana. “Jadi awal berkebun kami masih belum teratur, asal tanam saja karena memang anggota komunitas tidak ada yang berlatar belakang pertanian. Sampai-sampai kami waktu itu diajar cara berkebun yang benar oleh pekerja bangunan di sana,” ujarnya sambil tertawa.

Indonesia Berkebun memiliki kegiatan Akademi Berkebun yang khusus sebagai wadah untuk mengedukasi pelajar maupun masyarakat umum tentang berkebun dan sudah ada 41 angkatan di berbagai daerah.

“Manfaat dari berkebun di pekarangan tidak hanya sekadar membantu memenuhi kebutuhan pangan kita tetapi juga memliki dampak yang luas seperti membangun iklim mikro, mengatasi perubahan iklim dan membangun ekosistem,” terang Ida.

Di pekarangannya, Ida menanam sayur mayur, buah-buahan seperti anggur dan strawberry serta beberapa jenis bunga. “Intinya berkebun itu disesuaikan dengan kebutuhan bukan sekadar ikutan tren, sayang kalau hasilnya tidak bisa dikonsumsi atau bingung mau diolahnya”.

Selain itu penting juga menggunakan sistem agroforestry dalam berkebun agar ekologi terjaga dan bisa menyesuaikan jenis tanaman dengan luas serta letak pekarangan.

“Penting sekali menjaga kebun tetap rapih, bersih dan terawat. Hal ini bisa membantu kita untuk mengurangi hama pada tanaman secara alami, bahkan saya sendiri jarang sekali menggunakan pestisida,” ujar Ida.

Untuk masuk ke skala bisnis, Ida menyarankan agar masyarakat yang berkebun di pekarangan membentuk kelompok tani atau koperasi sebagai wadah pemasaran. “Jika ingin usaha sendiri juga bisa, seperti membuat produk olahan contohnya smoothies. Tinggal diatur masa tanamnya agar tetap bisa kontinyu”.

Ketua umum Intani, Guntur Subagja mengatakan dalam pengantarnya konsep berkebun Ida sama dengan filosofi Intani ‘makan apa yang ditanam dan tanam apa yang dimakan’. “Jadi jika kita mengaplikasikan filosofi ini maka setidaknya bisa memenuhi aspek mikro ketahanan pangan (kebutungan pangan keluarga)”.

Guntur memaparkan persoalan krisis pangan bukan sekadar tidak adanya sumberdaya tetapi lebih karena budaya masyarakat yang terbiasa instan dan belum berpikir untuk mengoptimalkan potensi kecil yang bisa berdampak besar seperti pekarangan rumah. “Maka kami di Intani berkomitmen untuk terus mensosialisasikan bagaimana membangun ketahanan pangan dimulai dari keluarga lalu membangun piloting ketahanan pangan skala desa hingga nasional”.

Webinar inspirasi bisnis Intani ditayangkan secara daring via zoom dan streaming di TANITV, setiap Rabu pukul 09.00 – 11.00 WIB.*

LEAVE A REPLY