INDONESIAREVIEW.ID – Forwada menyelenggarakan Mikro Forum Webinar Series 2022 dengan tema ‘Bagaimana G20 Perkuat UMKM dan Sendi-Sendi Ekonomi Terpenting Pasca Pandemi’ yang disiarkan secara virtual, Kamis (24/02). “Kementerian Koperasi dan UKM mencatat hingga Februari 2022 sudah 17,25 juta pelaku UMKM yang terhubung ke dalam ekosistem digital. Tumbuh lebih dari 100 persen dan ini lebih cepat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya,” tutur Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian Koperasi Usaha Kecil Menengah, Eddy Satriya dalam sambutannya.

Asisten staf khusus Wapres RI yang juga ketua umum INTANI-Insan Tani dan Nelayan Indonesia, Guntur Subagja Mahardika turut menjadi pembicara. Dalam sesi ini ia membahas bagaimana potensi UMKM, sektor pertanian dan perikanan serta ekonomi kreatif. “Presidensi  Indonesia menjadi tuan rumah G20, ini menjadi momentum yang sangat besar untuk membangkitkan ekonomi nasional khususnya UMKM, dan sektor lain yang terkait dengan pasar yang sangat besar. Di mana anggota negara G20 ini memberikan kontribusi Gross Domestic Product (GDP) yang sangat besar,” tutur Guntur.

“Sebagai negara muslim terbesar, sangat disayangkan Indonesia belum mampu menjadi produsen produk halal terbesar di dunia melainkan masih sebagai konsumen terbesar setelah Arab Saudi. Hal ini menjadi salah satu dasar kami membentuk Global Halal Hub (GHH) yang sudah diresmikan Wapres pada Januari lalu. Ini menjadi celah besar bagi pelaku UMKM” Guntur menjelaskan.

Program GHH ini menjadi tonggak awal menuju Indonesia sebagai Pusat Produsen Halal Dunia 2024. GHH mendukung pelaku UMKM untuk meningkatkan kualitas produk hingga memenuhi standar ekspor. “Beberapa langkah yang kami lakukan di GHH yaitu mengajak pelaku UMKM untuk terbuka pikirannya soal global market. Lalu kami bantu kurasi, digital anaysis, global product standard quality, global e-commerce marketing strategy, dan hingga bisa mendapat global buyer.”

Selanjutnya Guntur menyampaikan sektor pertanian dan perikanan sebagai motor penggerak ekonomi rakyat. “Sektor pertanian menggerakkan lima sektor strategis ekonomi yaitu pangan, farmasi, pariwisata, kosmetika dan energi. Sedangkan sektor perikanan memiliki komoditas ekspor unggulan seperti udang, tuna, cumi, kepiting, rumput laut dan nila. Dari sini bisa dilihat bahwa sektor pertanian dan perikanan memiliki potensi besar untuk di eksplor lebih luas.”

Lalu bagaimana dengan potensi ekonomi kreatif di Indonesia, menurut Guntur “Berdasarkan data yang dihimpun dalam Opus Creative Economy Outlook tahun 2019, sektor ekonomi kreatif memberikan kontribusi sebesar Rp 1.105 triliun terhadap PDB Indonesia. Hal ini menempatkan Indonesia di urutan ketiga setelah Amerika Serikat dan Korea Selatan di sektor ekonomi kreatif. Tiga subsektor yang berkembang saat ini yaitu kuliner, fesyen dan kriya.”

Untuk mengkolaborasikan tiga potensi besar ini bisa dimulai dari desa. “Indonesia memiliki lebih dari 83.000 desa, jika kita mampu membangkitkan ekonomi di desa dengan memaksimalkan potensi-potensi desa maka ekonomi nasional akan kuat. Salah satunya dengan membangun ekosistem desa digital terintegrasi. Ekonomi digital Indonesia terbesar di Asia Tenggara, ini menjadi momentum bersama untuk memperkuat sendi-sendi perekonomian pasca pandemi ” pungkas Guntur mengakhiri sesinya.

Turut hadir sebagai pembicara dalam kegiatan ini antara lain Sekretaris Deputi Kewirausahaan Kemenkop UKM, Talkah Badrus. Direktur GKKT OJK, Greatman Rajab. Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), Abdullah Azwar Anas. Wakil Pemimpin Divisi SME PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Yessy Aktaina. Managing Director Export Hub, Amalia Prabowo dan Direktur Utama Esta Kapital, Yefta Surya Gunawan.* (na-ir)

LEAVE A REPLY